Loading...

Harga Minyak Tembus Rekor Tertinggi dalam 9 Bulan Terakhir

Minyak mentah Brent dan WTI menyentuh level tertinggi sejak awal Maret 2020. Badan Energi Internasional memprediksi permintaan minyak masih lemah pada tahun depan.

harga minyak, brent, wti, west texas intermediate, iea, opec, vaksin virus corona, covid-19

Harga minyak mentah dunia mencapai rekor tertinggi dalam sembilan bulan terakhir pada Kamis pagi ini (17/12). Kenaikannya didorong data pemerintah Amerika Serikat yang menunjukkan stok minyaknya turun pekan lalu. Selain itu, pasar juga optimistis paket stimulus ekonomi negara ini akan segera disetujui.

Melansir dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent naik 0,6% menjadi SU$ 51,36 per barel pada pukul 08.16 WIB. Lalu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,6% menjadi US$ 48,09 per barel. Keduanya menyentuh level tertinggi sejak awal Maret.

Persediaan minyak AS turun 3,1 juta barel dalam sepekan, menurut data Badan Informasi Energi (EIA). Angkanya menunjukkan konsumsi yang naik dan melebihi ekspektasi analis yang sebesar 1,9 juta barel. “Ini pertama kalinya sejak akhir Oktober,” tulis ANZ dalam laporannya.

Harga minyak juga ditopang rencana bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk tetap menjalankan kebijakan suku bunga rendah. Para legislator negara itu juga sedang bergerak untuk menyetujui tambahan bantuan Covid-19 sebesar US$ 900 miliar atau sekitar Rp 12.722 triliun.

Pelaku pasar komoditas juga merespon positif rencana pemerintah negara itu untuk mengirimkan vaksin virus corona ke tenaga medis. Semua kondisi tersebut mendorong harga minyak ke arah pemulihan setelah permintaannya anjlok selama pandemi Covid-19.

Permintaan Minyak Masih Lemah Tahun Depan

Badan Energi Interansional (IEA) memperingatkan, butuh beberapa waktu untuk membalikkan permintaan minyak. Perkiraannya permintaan harga minyak global akan mencapai 5,7 juta barel per hari tahun depan. Angkanya terpangkas 170 ribu barel per hari dari prediksi sebelumnya.

Permintaan bahan bakar penerbangan masih akan lemah. Bahkan vaksinasi Covid-19 belum dapat memulihkan kondisi tersebut. “Kami melihat turbulensi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah pada 2020,” tulis IEA, dikutip dari Business Insider.

Untuk konsumsi bahan bakar transportasi darat kemungkinan akan kembali seperti pada tahun lalu. Tapi konsumsi bahan bakar jet pesawat terbang yang menyumbang 80% konsumsi minyak global masih akan melemah.

Tiongkok menyumbang paling banyak peningkatan konsumsi energi pada paruh kedua tahun ini. Namun, prospek di negara lain masih kurang menjanjikan. “Eropa tampaknya akan mengurangi konsumsi karena terjadi lockdown pada kuartal empat 2020,” kata badan itu.

Harga minyak memang telah pulih dalam dua bulan terakhir. Pemicunya adalah optimisme perkembangan vaksin Covid-19. Namun, dengan keberhasilan itu, permintaan energi belum dapat terdorong naik. Pasalnya, gelombang kedua virus kedua kini melanda AS dan Eropa. “Euforia vaksin dapat dimengerti, tapi butuh beberapa bulan untuk mencapai masa kritis vaksinasi dan aktivitas manusia kembali normal,” kata IEA.

Di sisi penawaran, organisasi negara pengekspor minyak dan mitranya alias OPEC+ telah setuju hanya meningkatkan produksi secara bertahap. Pada Januari, peningkatannya sebesar 500 ribu barel per hari. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar untuk kenaikan 2,2 juta barel dari target 7,7 juta barel per hari.

 

Source : https://katadata.co.id/sortatobing/berita/5fdae16e3bb16/harga-minyak-tembus-rekor-tertinggi-dalam-9-bulan-terakhir?utm_source=Direct&utm_medium=Sub-Kanal%20Berita%20Migas&utm_campaign=Indeks%20Pos%201

Tinggalkan Balasan